Wednesday, 29 October 2014

[Siak-Batam] Pemandangan dari dalam Jendela Kapal

"Akhir bulan pulang yuk!!"
Mendadak saya menoleh ke arah suami dan tanpa banyak kata saya langsung mengiyakan ajakan tersebut. Pulang ke Batam, our time yang selalu menyenangkan dan merupakan saat yang kami tunggu-tunggu. Bukan karena kita tidak bersyukur hidup di Siak yang notabene kota kecil, sepi, jalanan luas, dan tidak ada mall. Dibalik itu semua ada banyak hal yang membuat kita bahagia bisa menginjakkan kaki di kota tersebut, tapi rumah kami di Batam juga butuh belaian kasih sayang dari saya dan suami hahaha *semacam pingin bilang rumput dah semeter gitu*. Seperti biasa perjalanan bermula dari kos-kosan menuju pelabuhan Mengkapan Buton, ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam, jauh tapi entahlah kami selalu menikmatinya. Sampai di Buton pukul 12.00, sesekali kami mengamati hal-hal yang terjadi di ruang tunggu. Kapal Ferry Dumai Line dijadwalkan datang pukul 12.30, lalu kami beranjak menuju antrian masuk ke kapal. Batam, we are coming!!!!
 
Salah satu tempat duduk favorit setiap kali naik kendaraan kecuali motor, saya khususnya suka sekali duduk di samping jendela. Banyak hal yang wajib dilihat dari dalam jendela, tapi apa bagusnya lihat pemandangan dari dalam jendela kapal??dari Buton sampai Selat Panjang yang membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam, pemandangan kanan kiri masih hutan. Jalannya pun bukan lautan tapi sungai, sesekali kapal berjalan pelan karena ada speedboot atau kapal pembawa barang *bukan tongkang* yang lewat. Sampai pada akhirnya kami tertidur nyenyak, padahal film sedang seru-serunya, tapi entah rasanya tidur dikapal dengan kursi posisi rileks membuat mata kami perlahan terpejam.

Pukul 16.30 kami terbangun dan saya melihat pemandangan indah dari dalam jendela, sesekali ada ikan-ikan kecil yang berlompatan. Ternyata ini kenyataan, bukan rekayasa di televisi ataupun film-film. Warna lautpun sering berganti, biru dan terkadang hijau. Menjelang senja, langit-langitput mendadak romantis, bertanda sebentar lagi senja akan berlabuh. Mungkin tak hanya saya yang asik menikmati pemandangan cantik dari dalam jendela kapal, melainkan anak-anakpun tak kalah antusias.
Banyak kapal di tengah laut yang memilih untuk istirahat, mungkin. Pada akhirnya setiap perjalanan memiliki cerita tersendiri, bisa jadi kapal, nahkoda dan rutenya sama tapi yang membedakan adalah suasananya.
Pernah melihat pemandangan dari dalam jendela kapal???

***
hana_tia@yahoo.com / @hmzwan

Tuesday, 28 October 2014

Mie Lendir


 Assalamualaikum....
Uwaaa..apa kabarnya nih teman-teman??semoga sehat selau ya, maaf banget kurang lebih 2 mingguan nggak posting dan bewe alias silaturahmi *sungkem satu satu*. Keluar hutan sejenak menghirup udara kota Batam sekalian cabut rumput dan ngepel hahaha. Nah, ngomongin kota Batam, ada salah satu kuliner yang wajib di coba kaau teman-teman ke Batam, namanya MIE LENDIR, ciaaaaa. Kaget ya???saya aja kaget pas denger namanya, tapi pas makan kok angsung berubah drastis yak, henak bangetttt. Pertama kali makana mie lendir tahun kedua pas tinggal di Batam, di sekolah tempat saya ngajar kalau ada yang ulang tahun pasti pada nraktir makanan. Salah satunya mie lendir, sampai kantor di meja BK sudah ada satu kotak mie lendir dan surat cinta "Miss Hanna, di makan ya mienya. Miss Rotua". Kenapa namanya aneh gitu ya???mungkin kuahnya yang kental banget kayak lendir gitu hehe. 
Berhubung stok mie warna dari Javara masih ada, dan kebetulan banget pas kangen Batam, jadilah saya pingin buat mie lendir ungu. Resepnya saya gogling di mbah google, dari satu resep ke resep lain, akhirnya resepnya saya otak-atik sendiri, apa adanya stok di kulkas hehe. Ohya, resep aslinya pakai mie lidi, kuahnya pakai ubi jalar manis yang warna kuning, tapi berhubung adanya kentang jadi saya pakai kentang. Markimas, mari kita masak...

MIE LENDIR UNGU

Bahan :
Mie ungu 1 bungkus
Kentang 1 buah, kukus lau haluskan
Kacang tanah 6 sdm, goreng haluskan
Gula merah 3 sdm
Daun seledri 2 buah, cincang
Daun bawang 2 buah, cincang
Air 4 gelas
Daun salam 1 lembar
Sereh 1 batang
Tepung maizena 2 sdm, atau jika kurang kental bisa ditambah
Gula
Garam

Bumbu halus :
Bawang putih 4 buah
Cabe merah 3 buah
1 ruas kencur

Bahan pelengkap :
Tauge secukupnya, rebus
Kol secukupnya, rebus
Cabe rawit hijau, iris tipis
Bawang goreng kriuk
Telur rebus

Cara memasaka :
Rebus air, masukkan mie ungu dan minyak goreng 3 sdm, jika sudah matang angkat, tiriskan.
Kuah : Ulek bumbu halus, campur dengan kentang, kacang tanah, daun salam dan sereh. Rebus air, jika sudah mendidih masukkan bahan yang diulek, masukkan gula merah, garam dan gula. Tambahkan larutan maizena, aduk hingga rata, jika sudah matang angkat.
Penyajian : Tata mie di piring, tauge, kol, lalu siram kuah, taburi daun bawang dan seledri yang di cincang, cabe rawit dan bawang goreng kriuk. Jangan lupa telur rebus, bisa juga ditambahkan kerupuk.
Hidangkan selagi hangat.
Komentator pertama dari mas kakang prabu, katanya mantap *duile, laper apa doyannnn??*. Komentar kedua dari ibu kos, katanya mie lendirnya enak. Alhamdulilah, rindu Batam terobati sudah. Tapi coretan dari saya kuahnya kurang manis dan warnanya kurang cokelat dikit, mungkin karena ubi jalarnya manis kali ya jadi lebih sedep aja gitu. Ada yang tertarik maua bukin mie lendir di rumah???silahkan, semoga bermanfaat. Mari makan....!!!

***
hana_tia@yahoo.com / @hmzwan

Wednesday, 15 October 2014

Cempedak, Lemaknyo!!!

Cempedak, lemaknyo...kata-kata yang saya dengar ketika beberapa hari yang lalu kami (saya dan 3 anak kos) sedang pesta cempedak di dapur. Pertama kali merasakan cempedak di Siak Riau, kira-kira awal tinggal di Siak tahun lalu. Dikasih ibu kos bukan buah asli atau yang belum diolah melainkan yang sudah di campur dengan terigu, semacam pisang gorenglah. Nah, bulan lalu ketika saya balik dari Batam, mampir ke rumah salah satu teman kos. Kebetulan rumahnya di tengah-tengah lahan sawit, dan sedang panen cempedak. Siang yang panas saya dan suami disuguhi cempedak goreng yang tidak dicampur jadi satu (dihancurin) seperti yang dibuat ibu kos, tapi buah masih utuh dicelupin di terigu lalu digoreng. Nyem....rasanya enak sekali, sedap dan lembut di lidah.

Cempedak beda dengan nangka, tapi masih sepupuan sih hahaha. Semuanya sama, mulai dari pohon, kulit, dan isinya, bahkan beton atau dalamnya buah juga persis sama bentuk dan rasanya. Bedanya, kalau cempedak buahnya bulat, montok, menul-menul, tekstur dagingnya lembut berserat. Kalau nangka buahnya agak lonjong, teksturnya crunchy kalau digigit bersuara, krenyes krenyes. Kalau cempedak ini buahnya dikit, mungkin satu buah yang ukuran sedang isinya 10 buah. Tapi kalau nangka sepertinya lebih dari itu.
Kemarin juga dapat jatah kiriman cempedak dari ibunya teman kos, tapi belum matang. Tips agar matang dengan baik, taruh di tempat yang terjangkau oleh matahari. Dan dua hari setelah itu cempedak matang dengan baik, rasanya lemak kali, kalau orang sini bilang enak itu lemak. Dan saya baru tahu hehe...

Ada yang belum pernah makan cempedak???
***
hana_tia@yahoo.com / @hmzwan

Tuesday, 14 October 2014

Buras Cocol


Ini masih cerita tentang berkah Idul Adha minggu lalu, kebanjiran lontong wa akhwatuha dan ngak mungkin juga habis sekejap dalam waktu semalam. Hari kedua Idul Adha masih banyak sisa lontong wa akhwatuha salah satunya Buras, sebenarnya nama aslinya saya juga kurang tahu, teman yang orangtuanya Bugis (yang ngasih maksudnya) cuma bilang kalau ini namanya Buras. Sedangkan teman-teman di Fb ada sebagian yang menyebut Buras ada juga yang Burasa, apapun itu yang penting Buras rasanya ajibbb bin ladzizz hehe. Dibuat dari beras yang di masak dengan banyak santan, jadi rasanya benar-benar enak dan gurih banget nget nget. Sebenarnya dimakan gitu aja sudah enak, tapi berhubung sekalian masak dan iseng pingin nyobain Buras dimakan sama yang kuah-kuah gitu. Kuahnya jatuh ke Cumi Masak Tomat...Markimas mari kita masak pemirsah.

Cara membuat Buras, pertama-tama masak beras dengan santan yang banyak sampai jadi nasi lembek. Kemudian bungkus dengan daun pisang, kalau menurut saya bentuknya seperti Lepet (Jawa), jadi nantinya 3 bungkus diikat menjadi satu lalu selanjutnya di rebus hingga matang.

CUMI MASAK TOMAT
Bahan :
Cumi ukuran sedang 5 buah, potong sesuai selera setelah direndam dengan air jeruk nipis
Sereh 1 buah
Daun jeruk 1 buah
Air jeruk nipis 1 sdm
Garam
Gula

Bumbu rajang :
Bawang merah 6 buah
Bawang putih 3 buah
Cabe merah 2 buah
Cabe ijo 2 buah
Cabe rawit 5 buah
Jahe 1 ruas, geprak
Tomat 2 buah,iris serong
 
 Cara :
Panaskan minyak goreng, tumis bumbu rajang, daun jeruk, dan serah.
Tambahkan gula dan garam, masukkan cumi, aduk.
Jika sudah matang angkat, sajikan.
Cara menikmatinya gampang, cocol aja Buras dengan cumi masak tomat. Enak banget ternyata hehehe, sebenarnya dimakan gitu aja udah enak sih, tapi kan saya pingin sesuatu yang berbeda gitu hehe. Burasnya enak, cuminya juga enak, cocok. Silahkan di coba, semoga bermanfaat...^^

***
hana_tia@yahoo.com / @hmzwan

Monday, 13 October 2014

Opening Ceremony


Di  acara opening ceremony Tour de Siak 2014, selain ada parade atlit dari berbagai negara, yang tidak ketinggalan adalah gapura balon dan jejeran bendera dari tiap negara yang mengikuti TDS 2014.

***
hana_tia@yahoo.com / @hmzwan

Wednesday, 8 October 2014

Cara Menikmati Ketupat a la Sumatera

Pesta Lontong Wa Akhwatuha
Maksudnya kebanjiran lontong dan teman-temannya, nggak disangka ternyata berkah Hari Raya Idul Adha sangat terasa bagi saya yang jauh dari orangtua dan sanak saudara. Tahun lalu mendadak ingin lebaran Idul adha di Rengat Riau, dan akhirnya kesampaian keliling setengah dari Provinsi Riau. Tahun ini berhubung suami ada kerjaan jadi lebaran di Siak Riau. Hari sabtu anak-anak kamar sebelah dan depan pulang semua, tinggal saya sendiri, untung rumah ibu kos berdempetan, jadi nggak sepi-sepi amat. Hari minggu sore gerombolan anak SMA pada balik, satu persatu ngasih oleh-oleh, dan mendadak terharu.

Lontong, Buras, Ketupat dan Lemang
Dari ibu kos dikasih lontong yang dibungkus plastik, ketupat ketan, gulai sayur, dan rendang bebek. Dari anak kos ada sepiring munjung buah nangka, ada juga buras, lemang dan rendang ayam kampung. Kalau lontong rasanya biasa seperti lontong pada umumnya, ketupat ketan khas orang Sumatera, kalau di Jawa kan ketupat isinya beras. Kebetulan teman samping kamar orangtuanya orang Bugis, jadi setiap hari raya selalu buat buras dan lemang a la orang Bugis (berdasarkan wawancara hahaha), buras dibuat dari beras yang dikasih santan banyak, rasanya gurih, enak, teksturnya agak bernasi tapi sunguh enak sekali. Nah, lemangnya ini yang dua kali masak (ingat, ini yang prosesnya dua kali masak bukan sekali masak pakai bambu saja). Ceritanya pas mau incip, saya belah tengah pakai pisau, lha kok kebelah sendiri, terntaya sudah dibelah-belah. Sepertinya setelah lemang masak, sengaja di iris-iris kurleb 5 senti dan di bungkus kembali lalu diikat dan dikukus hehe,unik ya. Kalau di Jawa lemang ini kayak lepet, tapi pas saya rasa tekstur lemang lebih lembut dibanding lepet. Assikk, dah kayak pak Bondan aja nih, eaaa. Rasanya enak bangettt.
Cara Menikmati Ketupat a la Sumatera
Kalau di Jawa menikmati lontong dan ketupat pasti sama sayur, sejenis sama sayur lodeh gitu. Tapi lain cerita di Sumatera, disini lebih simpel, unik, dan asik banget. Cukup di cocol dan dinikmati dengan rendang kelezatannya sudah terasa, awalnya sih aneh, tapi kok lama-lama enak juga hahaha. Kalau dagingnya habis, otomatis bumbunya masih banyak, namanya aja rendang, cocol aja pakai bumbu udah enak banget. Mempelajari budaya setempat itu nggak perlu mengorek-ngorek dengan susah payah, cukup dengan melihat cara mereka, ajak berbincang, lalu ikuti. Pelan-pelan nambah lagi ilmu budaya disini hehehe.
Pernah nyoba makan ketupat dicocol pakai rendang...??

***
hana_tia@yahoo.com / @hmzwan

Tuesday, 7 October 2014

Mie Daun Kelor

Mie daun kelor???beneran nggak sih???ya bener lah, masak bohong hehe. Ceritanya saya juga norak banget pas lihat kemasan mie yang saya pegang saat itu, kalau mie hijau paling-paling pewarna alaminya dari bayam, eh ternyata ini beda. Mie organik milik Javara ini ternyata mie daun kelor, biasanya kan dari bayam ternyata bukan, unik dan kreatif banget idenya. Dapat 3 mie dengan warna yang berbeda rasanya menjadi tantangan sendiri bagi saya untuk mengolahnya, kapan hari mie cabe merah saya masak mie ayam. Kali ini karena baru saja belanja cumi dan udang segar di pasar, jadinya dimasak goreng basah seafood ajalah kayaknya mantap
MIE DAUN KELOR GORENG SEAFOOD BASAH

Bahan:
Mie daun kelor 1 kotak (1 bungkus isi 2 kotak panjang)
Telur 1 buah, goreng orak arik
Udang 8 buah
Cumi 5 buah, potong sesuai selera
Daun seledri 1 ikat, cincang halus
Cabe hijau 3 buah, iris serong
Garam
Gula
Kaldu ayam

Bumbu halus:
Bawang merah 5 buah
Bawang putih 2 buah
Cabe rawit 5 buah
Cabe merah 2 buah

Cara memasak:
Rebus mie daun kelor, tuang 3 sdm agar mie tidak lengket. Jika sudah matang agkat, tiriskan.
Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus, cabe hijau, masukkan udang dan cumi. Biasanya keluar air dan tidak lagi menambah air.
Masukkan garam, gula, kaldu ayam dan mie daun kelor, aduk.
Tambahkan telur dan daun seledri, aduk, jika sudah tercampur angkat lalu hidangkan.
Tekstur mie daun kelornya seperti biasa lembut banget, beda dengan mie telor, kami suka banget, sayang sekali sepertinya hanya tersedia di Jakarta dan sekitarnya. Kebetulan tidak ditambah air karena pas masukin cumi sama udang mendadak air keluar, dan jadilah mie goreng basah. Semuanya rasanya nikmat, alhamdulillah. Ohya, tips untuk masak cumi jangan terlalu lama karena teksturnya pasti akan alot. Selamat mencoba, semoga bermanfaat.
***
hana_tia@yahoo.com / @hmzwan

Monday, 6 October 2014

Basikal

Basikal atau bicycle sih??dua-duanya benar, kalau orang Malaysia menyebut sepeda itu basikal, sedangkan kita orang Indonesia sepeda. Ceritanya pas saya lihat live Tour de Siak 2014 sepanjang beberapa hari itu, ada satu tim yang namanya Persatuan Lumba Basikal Trengganu, beberapa anggota tim ini menyabet juara satu di berbagai etape, yang saya tahu hanya di etapi 3 dan 4. Foto ini saya ambil ketika pulang dari parade atlit Tour de Siak 2014 pada tanggal 17 september 2014.
Persatuan Lumba Basikal Trengganu
 
 
Baca juga Tour de Siak 2014
Ada yang hobi main basikal???
***
hana_tia@yahoo.com /@hmzwan


Thursday, 2 October 2014

Pesawat Putar Balik,Ada Apa Gerangan???

"I've tried everything other than jumping out of a plane, but nothing gives you an adrenaline rush like racing a car."
Dulu, dulu sekali bahkan saat saya memimpikan untuk keliling Indonesia di usia 8 tahun, tidak terbersit sekalipun untuk bermimpi naik pesawat. Iya, pesawat terbang atau motor molok. Pertama kali naik pesawat tahun 2011 ke Batam, berangkat dari Juanda Surabaya dan transit di Jakarta. Harusnya Surabaya - Batam ditempuh dalam waktu 2 jam, tapi apa boleh buat, pengalaman pertama naik pesawat membuat keluarga saya kalang kabut ngak karuan, kok belum ada kabar??sampai mana??udah sampai Batam belum??dan lain sebagainya. 

Take off itu rasanya....
Sebenarnaya biasa aja sih pas mau naik pesawat, duduk cantik di samping jendela, pasang sabuk dan berdo'a. Siap take off, pesawat berjalan biasa, rasanya sih grenjel-grenjel, lanjut halus, selanjutnya cepat dan duh Gusti Pengeran....mata terpejam, samar-samar pesawat naik, tempat duduk rasanya perlahan dijempalikkan. Sambil baca do'a, dan perlahan posisi sempurna *sebenarnya sih sempurna dari awal,kan pesawatnya yang naik dan belok-belok hehe*. Kemudian perlahan saya beranikan diri membuka mata, melihat ke jendela, subhanallah awannya sungguh indah. 

Pesawat putar balik, ada apa gerangan???
Pernah nggak mengalami pesawat putar balik, padahal dari atas sudah terlihat titik-titik pulau dari jendela, itu artinya sebentar lagi akan landing. Kejadian ini pernah saya alami, 20 menit mau landing di bandara Hang Nadim Batam, tiba-tiba ada pengumuman bahwa pesawat akan putar balik ke Jakarta. Penyebabnya, satu mesin pesawat mati. Duh, rasanya...nggak karuan. Balik lagi ke Jakarta, dan nunggu 2 jam lebih, ngapain coba 2 jam di bandara???.

Pengalaman transit yang seru...
Transit yang pertama sih nggak lama nunggu pesawatnya, nah yang lama itu pas transit kedua gara-gara mesin pesawat mati satu. Harusnya sampai Batam pukul 10.00 tapi berhubung ada masalah akhirnya saya dan suami terdampar di Soehat selama sekian jam, tau nggak sampai Batam jam berapa??jam 15.00. Terus ngapain aja di Soehat??
1. Jalan-jalan
Namanya juga bandara Soehat, jadi gede banget, bosan duduk diruang tunggu akhirnya kami jalan-jalan nggak jelas. Lihat pesawat, lihat pilot dan pramugari yang baru datang, lihat anak-anak yang lari-lari dan sukses membuat orangtuanya berlarian juga, seru ya hehe.
2. Iseng
Lihat antrian orang yang mau beli minuman yang pakai uang koin atau kertas ya??entahlah, seru aja lihat orang-orang itu. Ada yang sudah lihai, ada yang baru pertama kali nyoba, dan sukses nggak keluar pesanannya hahaha.
3. Menikmati makan siang lesehan
Berhubung ruang tunggu penuh, jadi setelah ambil jatah makan siang, kami cari tempat yang asik buat menikmati ayam bakar yang lumayan besar ukurannya. Pilihan jatuh di saping jendela terbuka yang viewnya ke taman bandara, adem banget, asik aja makan siang lesehan di lantai sambil ngobrol sambil makan enak. 

Landing yang bikin deg-deg'an
Sama rasanya seperti take off, tapi bedanya saat landing itu rasanya lebih menggetarkan, dahsyat banget getarannya. Pernah ditanya sama teman, gimana rasanya landing???tau jalanan rusak, atau jalanan tanah yang gronjal-gronjal??kalau  naik mobil melewati jalan tersebut dan mobilnya ngebut banget, ya gitu rasanya tapi ngebut mobilnya 100 kali lipat lo ya haha, gitu rasnaya pas pesawat landing hehe. Tapi lega banget rasanya pas turun pesawat, alhamdulillah selamat sampai tujuan.

Ada yang punya pengalaman sama??
***
hana_tia@yahoo.com / @hmzwan


Review Ecohome Stand Mixer ESM 999