Friday, 7 February 2014

[on friday] Bibi Berparas Cantik



Tadi, aku sempat membaca raut wajahnya yang tersiram hujan. Tangannya gemetar, bibirnya sedikit pucat tak seperti biasanya yang merah marun. Senyumnya merekah ketika pagi menghampiri, satu persatu kaki-kaki mungil diantar oleh sopir bertandang ke gubuknya, di bibir pintu, sosok rembulan tunduk dan memeluk hangat mereka.

Pukul 9.00 tak ada lagi senyumnya di ujung gang, pintu gubuk pelangi sudah tertutup rapat. Yang terdengar hanya nyanyian merdu yang keluar dari bibir-biri mungil, sesekali aku mendengar suara merdunya.

Yang kutunggu saat terik mulai meninggi, ketika perlahan jemari lentik menyibak lembar demi lembar jendela dan pintu gubuk. Satu persatu bocah mungil keluar dan bermain. Dibawah pohon rindang yang teduh, aku melihatnya duduk, wajahnya ceria seperti langit siang ini. Terkadang, sesekali ia berlari dan memeluk kaki-kaki mungil yang berhamburan kearahnya.

Rasanya, berjuta-juta senyum manis dari lesung pipinya yang merekah sudah kuabadikan dalam memori terdalamku. Suatu saat jika tiba-tiba rindu menyapaku, tak butuh waktu satu menit bayanganmu sudah muncul dihadapanku. Sebab, pada setiap detik yang berdetak, ada hati yang selalu setia merekam gerak-gerikmu di persimpangan. Terkadang aku tak kuasa menyimpan beribu-ribu rasa yang terseok, untuk bangkitpun aku tak mampu.

Tak seperti biasa, halamannya penuh dengan karangan bunga. Tiba-tiba ia keluar, disampingnya sosok gagah yang aku kenal. ayahku…

***
Siak,7/2/2013
Written by : @hmzwan

48 comments:

  1. Mbak diksinya sudah keren banget, mengalir dan puitis....

    ReplyDelete
  2. salut sama penulis cerpen begini mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya malah salut sama penulis cerpen beneran mbk hehe

      Delete
  3. ini salah satu kelemahan saya...
    kurang bisa merangkai kata dengan indah / puitis... selain itu saya juga butuh konsentrasi lebih dalam memahami kata-kata puitis seperti ini...

    *berpikirkeras :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe...santai mbk,sini tak temenin :D

      Delete
  4. Kok bisa Mak bikin tulisan sepuitis ini ya. Hehee jadi iri deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe..g tau jg mas,hbs makan sambal blelek nih

      Delete
  5. kerem fotonya ..tulisannya juga..

    ReplyDelete
  6. aduuh saking bagusnya, aku harus baca dua kali untuk faham....endingnya sungguh mengagetkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju, aku juga sampai baca 2 kali, hihihi :)

      Delete
    2. mbk ida....hehehe,saya baca berkali2 mbk,maksih mbk ida^^

      miss indi...hehehehe,g mudeng2 ya miss hehe.maksh miss dah mampiR^^

      Delete
  7. aku nyerah kalau udah ber-diksi- kaa >.<

    ReplyDelete
  8. Postimgan seperti ini jadi ciri khasnya mbak Hanna ya? Kereen ... Pertahankan ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe,,,,mbk niar juga keren,makasih ya mbk^^

      Delete
  9. Puitis sekali Mbak... Suka ^^. Ini flash fiction bukan?

    ReplyDelete
  10. foto & kata2nya .. hmmm ... dalem.

    ReplyDelete
  11. Aku suka dg kata demi kata yang indah tapi rupanya aku tak pandai memahaminya Mak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe sama mbk,kadang saya juga sering g aham kl baca puisi atau sajak teman2 :D

      Delete
  12. Kalau cerpen2 gini, saya agak lama memahaminya, Mba.
    Mohon dimaklumi. . .:D

    ReplyDelete
  13. Jeder...bagai disambar geledek terakhirnya hehehe...kece bingit mak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiyyyaa hehehe...jedder,makasih mak^^

      Delete
  14. Bagus banget cerita & pilihan kata2nya. Keren, mak! Itu ada typo dikit: bibir-biri

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe..hiyyaa,dibaca berkali2 masih ada typo..err..maksih mak^^

      Delete
  15. tulisannya bagus... trus gambar pendukungnya top banget..kl boleh tau, bisa bikin begini dapat idenya dari mana y mba?

    kunjungan perdanan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. emmmmm,,dari mana aja idenya muncul,lihat oto tiba2 pingin nulis ya sudah ditulis hehe

      Delete
  16. Jadi ayahnya itu selingkuh dg bibi?

    ReplyDelete
  17. Tapi saya gak mudeng :((((((((

    ReplyDelete
  18. eh,, udah aku baca berulang ulang,, tpi,, belum bisa menyimpulkan,.. jadi bibinya itu siapa sih mbak?? heheh...

    ReplyDelete
  19. Ayah??
    Semoga saya bisa jadi ayah yang baik.. :)
    Nah lho...
    Hehehe
    SAlam..

    ReplyDelete
  20. aaaaah...saya jadi berimajinasi sana sini...surprising ending dengan munculnya sang ayah...love it!

    ReplyDelete
  21. Puitis dan fotonya oke bangetttttt...

    ReplyDelete
  22. dalem banget mbak....
    sedalam sumur hihiihih...
    nice...:)

    ReplyDelete
  23. Saya ... Jadi mellow, huhu...
    Rangkaian ceritanya bagus mbak

    ReplyDelete
  24. ceritanya keren ,,, singkat namun padat :D

    ReplyDelete
  25. Ayahmu ngapain di situ Maaak? awal aku membacanya pikiranku dibawa melayang...lalu tiba-tiba ada ayahmu *hm...bagus sekali * btw...dirimu layak banget masuk 10 besar SB2014, aku dukung dirimu 100% ya Mak...hihii

    ReplyDelete
  26. Mbak, diksinya bagus. Tapi jujur saja saya kurang paham ceritanya. Ini flash fiction-kah?

    ReplyDelete