Tuesday, 10 January 2017

Tips Memasak Pedas Meskipun Cabai Mahal


Minggu ini timeline berserakan dengan curhatan emak-emak tentang mahalnya cabai. Beberapa hari yang lalu, ketika saya beli bakso, ada seorang ibu yang tanya ke amang penjual bakso tentang harga cabai di pasar. Sempat kaget juga, di Subang harga cabai 1/4 Rp 25.000. Untung saya sudah belanja cabai menjelang detik-detik kenaikan harga. Tapi gimana kalau cabainya habis?mau ngga mau kan harus beli untuk keperluan masak memasak. Apalagi saya dan suami setiap hari harus ada sambal. Nggak ada sambal hidup hampa kakak, nah lo, mulai galau.

Karena, menjadi ibu rumah tangga itu harus pintar, katanya. Ketika beberes sayur, saya baru ingat bahwa masih banyak stok cabe merah kering. Nah, ini dia salah satu bahan sumber pedas untuk masakan. Jadi, mendadak hilang kegalauan.

Tips Memasak Pedas Meskipun Cabai Mahal
1. Cabai merah kering
Selain digunakan dalam bentuk segar, cabai merah kering juga menciptakan sensasi pedas untuk masakan. Di pasar banyak dijual, di Subang, satu plastik ukuran 1/4 isinya hampir penuh harganya Rp 5000. Rasa pedas yang ditimbulkan dari cabai merah kering ini sensasinya pedas sekali, seperti pedas cabai dengan merica. Ada dua pilihan mengelola cabai merah kering, pertama bisa langsung di haluskan. Kedua dengan cara meredam terlebih dulu cabai merah kering dengan air hangat, sehingga teksturnya menjadi lembut saat diuleg atau dihaluskan.

Tetangga di rumah kontrakan, amang penjual bubur ayam, menggunakan cabai kering untuk sambal. Itupun tidak sengaja saya melihat rendaman cabai kering di depan rumah. Akhirnya saya ikut-ikutan beli dan mencoba kebenarannya, ternyata benar, luar biasa pedas. Menurut saya, 6 buah cabe merah kering rasanya setara dengan 15 cabai rawit (cabai rawit yang warna hijau).

2. Mencampur cabai basah dengan cabai kering
Ketika harga cabai dipasaran masih naik, dan masih tidak bisa hidup tanpa cabai, sambal atau masakan yang ada sensasi pedasnya. Kita masih bisa mensiasati hal tersebut dengan tetap membeli cabai basah dan cabai kering. Lalu mencampur keduanya dalam masakan kita. 2 buah cabai basah dan 4 buah cabai kering, kalau kurang pedas, INGAT mak, cabai mahal, hehehe.

3. Bumbu non cabai
Ada jahe, dengan rasa panas pedas, merica putih, merica hitam, merica sechuan dan andaliman. Kebanyakan yang sering saya pakai, jahe dan merica. Andaliman adalah rempah masakan khas Batak. Bentuknya mirip merica. Saat segar warnanya hijau, lalu menghitam setelah beberapa lama. Memberi sensasi pedas dan menggetarkan ujung lidah. Sumber : buku Hot & Spicy Recipe MasterChef Indonesia.

4. Bumbu/cabai instan
Kalaupun masih tetap ingin masakan pedas di minggu dimana harga cabai tidak turun-turun, kita bisa mensiasati lagi dengan cara menggunakan bumbu atau cabai instan. Iyes, hidup bumbu instant!!. Karena salah satu tujuan utama para pembuat ide makanan/bumbu instant adalah untuk membantu para ibu rumah tangga, sehingga dalam hitungan menit semua sudah siap.

Bumbu/cabai instant yang bisa dimanfaatkan untuk memberi rasa pedas pada masakan diantaranya, saus cabai saset atau botolan, chili oil, sambal Bangkok (ini enak banget lo..), tabasco, wasabi (sejenis lobak parut yang banyak dipakai di dapur Jepang). Sumber : buku Hot & Spicy Recipe MasterChef Indonesia.  

Nah, gimana??masih galau??. Atau udah pada siap-siap mau ke toko beli tobasco atau wasabi??hehe. Apapun kondisinya, meskipun harga cabai mahal, kita masih bisa masak masakan pedas kok. Pastinya bisa disiasati dengan bahan cabai kering, bumbu non cabai atau cabai instant.
Semoga bermanfaat..

17 comments:

  1. bukannya cabai kering itu lebih mahal dari cabai biasa mba? eh.. apa saya yg salah ya...

    ReplyDelete
  2. Aku muter2 pasar nyari lombok kering gak nemu. :'D Hihihihi

    ReplyDelete
  3. Boleh dicoba alternatif ini. Gila mah harga cabe sekarang. 1000 rupiah dapat 4 biji. :p

    ReplyDelete
  4. Suamiku ga bisa makan pedes mbak. Jadi aku sekarang ga bisa pedes juga. Aman dompet, haha.
    Duh, wasabi krg enak menurutku.

    ReplyDelete
  5. Aku tipe yang di rumah masak gak bs gak pake cabe. Jd naik gak naik tetep pake cabe :)
    Tips ini bermanfaat bangeet nih buat saving uang belanja ^^

    ReplyDelete
  6. baru tahu kalau cabe basah bisa dicampur dengan cabai kering. aku biasanya ambil cabe di depan rumah, mba. nanem sendiri, disebar gitu aja, tahu2 tumbuh. jadi bisa hemat. hehe

    ReplyDelete
  7. Berarti klo pas cabai murah-meriah gitu..mending jemur cabai ya mbak..mbuat stok klo pas mahal..

    ReplyDelete
  8. Iya mbak sama, aku pakai merica sama jahe tapi untungnya suami nggak suka makanan pedes. Jadi yg makan cuma aku aja, btw disini cabe kering susah mbak.

    ReplyDelete
  9. Ketika cabe murah, beli yang banyak trus jemur, simpen. Pas butuh tinggal ngrendem dulu

    ReplyDelete
  10. iya mbak cabai sekarang mahal..untungnya aku g terlalu suka cabe ..tp harus disiasati

    ReplyDelete
  11. Nggak mak, nggak galau. Malah disini harga cabe mahal sekali. Diawal2 suka konversiin ke hrg cabe di kampung, lama-lama pasrah aja :D

    Tapi emang harus diakalin gitu sih biar hemat. AKu suka beli cabe thailand, karena 1 aja udah pedas banget. Trus kalau ada diskon, aku suka beli banyak, blender dijadikan sambel trus goreng ampe kering. Habis itu bekukan. Yang utuh juga aku bekukan di Frezer.. :)

    ReplyDelete
  12. Eh hrg cabe beneran naik ya? Ud lama ga ke pasar, ga tau hrga cabe terkini deh. Lg ga smpt masak bgt, jd bolbal beli jadi mlulu

    ReplyDelete
  13. kalau harga2 barang naik begini saya selalu ingat kata Ibu saya, Berapa pun mahalnya semoga Allah memberi keluasan rejeki untuk membelinya , jadi rejeki untuk pedagangnya....aamiin

    ReplyDelete
  14. Aku nih suka masakin pak suami ayam pedes kemangi, kasian cabe kena hama >.<
    Mbaa makasih tipsnyaaaa :D

    ReplyDelete
  15. Naaaah itu, baru semalam aku ngobrol dg suami soal cabe kering. Waktu Batam dulu aku suka pakai cabe kering. Di warung2 banyak. Di Jogja itu nggak ada cabe kering, atau aku belum nemu aja.

    ReplyDelete
  16. membeli cabe kering kayaknya suatu solusi untuk mengatasi harga cabe yang mahal

    ReplyDelete