Thursday, 17 August 2017

DIY : Menyulap Daster Menjadi Baju Gamis Anak Laki-laki


DIY : Menyulap Daster Menjadi Baju Gamis Anak Laki-laki. Bermula dari baju koko di beberapa toko yang kami kunjungi selalu ukuran besar, kalaupun ada yang seukuran bubuky, pas dicoba selalu kebesaran. Akhirnya saya dan suami berinisiatif membeli gamis untuk bubuky sholat. Maksudnya, baju untuk bubuky yang akan dipakai ketika ikut bapaknya sholat jamaah di mushola. Kebetulan bubuky selalu ikut bapaknya sholat jamaah di mushola, baik maghrib ataupun subuh.

Nah,kebetulan jarak 2 km dari rumah ada satu toko khusus gamis untuk perempuan dan laki-laki, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Tapi, setiap lewat dan mau kesana selalu tutup. Mau beli online, tapi nggak sempat. Sekali pingin beli online, antusias, eh sellernya kurang responsif,jadi angkat tangan deh.

Akhirnya, disatu malam, ketika bapaknya bubuky lagi keluar, bubuky sudah tidur. Saya beres-beres lemari, ada satu daster yang masih bagus, saya suka tapi sudah sobek lebar di bagian samping. Mau dibuang tapi kok sayang banget, karena motif dasternya bagus. Tiba-tiba kepikiran bikin gamis bubuky, yaudah, modal nekat ambil gunting dan peralatan jahit menjahit.
Bikin baju nggak pakai mesin jahit emang bisa??
Buktinya bisa,hehehe....

DIY : Menyulap Daster Menjadi Baju Gamis Anak Laki-laki
Apa yang harus di persiapkan?
1 buah baju daster bekas/soak/tak layak pakai (yang tak layak pakai ini ibu-ibu pasti sudah tau hehehe)
Gunting
Jarum jahit tangan
Benang jahit berwarna hitam
Kaos (sebagai contoh untuk membuat pola)

Yuk kita mulai!!
1. Karena kebetulan saya nggak punya meteran, jadinya ambil jalur cepat aja. Yaitu dengan cara menempel baju atau kaos anak untuk ukuran (khususnya lengan dan kerah). Ohya, gunting pola bakal baju jangan ngepres ya motong kainnya, sisakan 1-2 cm.

2. Karena kali ini saya mau bikin gamis anak laki-laki, jadi bawahnya saya panjangin.

3. Untuk kerahnya,saya buat kerah bulat simpel. Jadi tugas selanjutnya adalah membuat lapisan bagian dalam kerah, satu untuk kerah depan, satunya lagi untuk kerah bagian belakang. Setelah itu, jahit kedua balik kerahnya. Jadilah kerah bulat.

4. Setelah bagian kerah beres, selanjutnya jahit semua bagian. Mulai dari bagian sisi kiri, kanan, dan lengan baju.

5. Baju siap dipakai ke musholla,yeay!!!Jangan lupa disetrika ya biar rapi. Butuh waktu 2 jam untuk membuat baju gamis anak dengan jahit tangan, mungkin kalau pakai mesin jahit lebih cepat dan tambah rapi. Ya, kayak yang dijual di toko baju gitu hehehe.

Pas baju gamis saya pakaikan ke bubuky, pas di badan, bukan pas ngepres gitu tapi pas longgar seperti gamis anak-anak pada umumnya. Catatan untuk gamis kali ini di bagian kerahnya, besok lagi sepertinya harus kerah bulat tapi menggunakan kancing depan, biar rapi gitu.

Akhirnya, bisa nulis DIY menyulap daster menjadi baju gamis anak laki-laki. Tapi sebenarnya bisa juga untuk anak perempuan, tinggal dipancangkan lengannya. Tentunya nggak bikin gerah,kan kainnya adem hehe.

Teman-teman,ada yang punya pengalaman menyulap daster menjadi baju??

Sunday, 13 August 2017

Subang : Bermain Air di Kolam Renang Yadika Kalijati


Ada yang punya balita hobi banget main air?lihat air ngucur dari kran,udah ketawa ngikik-ngikik dan jika dimatikan, bubuky menarik lengan bapak ibunya meminta untuk mengalirkannya kembali. Dan masih banyak lagi, pokoknya kalau ada air, bubuky udah langsung histeris pingin megang dan main air sesukanya.

Sejak bubuky suka bermain air, saya dan suami mulai punya ide untuk mengajak bubuky renang. Sebenarnya dari sejak usia 6 bulan waktu masih bolak balik tinggal di Kota Batam dan Siak Riau saya sudah pingin banget ngajak bubuky renang, tapi apalah daya belum ada waktu buat bermain air di kolam renang. Endingnya, saya ajak bubuky bermain air di bak kamar mandi hehehe.


Setelah beberapa bulan berlalu, akhirnya kami harus pindah ke Kota Subang Jawa Barat. Artinya, kami bakal explore kota baru lagi dan yang bikin bahagia, disini ada banyak kolam renang hehehe. Ohya, kebetulan pas suami libur kerja, saya buru-buru browsing tempat renang di Kota Subang. Akhirnya pilihan jatuh ke Kolam Renang Yadika Kalijati.
Dari rumah kontrakan kami berangkat pukul 14.00, hanya ditempuh dengan waktu 30 menit, akhirnya kami sampai di daerah Kalijati. Untuk tiket masuk, anak-anak dikenai biaya Rp 5000, sedangkan untuk orang dewasa dikenai biaya Rp 10.000. Jadi, kami hanya bayar tiket Rp 20.000.
Mari bermain air....yeay!!


Pas masuk area kolam renang rasanya plong banget, karena area kolamnya lumayan luas dan jadi satu, nggak ada pembatas. Maksudnya, satu area gitu. Waktu kami renang lumayan nggak ada banyak orang, berasa kolam renang pribadi,hwehe. Yang ada hanya dua keluarga yang membawa anak balita di kolam renang anak-anak, dan kurang lebih 40 siswa dari sekolah yang sedang praktek renang.

Meskipun cuaca panas, tapi untung di separo area kolam renang anak-anak luka yang teduh, jadi bubuky bisa bermain air dengan nyaman. Setelah mencopot pospak, bubuky langsung saya cemplungin dengan hati ke kolam, pelan-pelan maksudnya hehe. Ohya, karena bubuky belum bisa renang dan berdiri sendiri, jadi masih digendong bapaknya saat renang. Sesekali saya pakaikan pelampung khusus balita atau anak yang baru belajar renang.

Manfaat renang untuk bayi dan balita sangat bagus untuk perkembangan otot tangan dan kakinya. Untuk bubuky, yang belum bisa berjalan (lambat), ini sangat bagus untuk melatih dan melenturkan otot kakinya.

Buat yang sedang liburan ke Subang,kolam renang Yadika Kalijati bisa menjadi alternatif liburan bareng keluarga dan anak-anak. Tempatnya luas, bersih dan ada kantinnya juga lo.

Setelah bermain air dan renang sepuasnya, kurang lebih pukul 16.30 kami selesai mandi dan bersiap pulang. Sebelum pulang ke rumah, kami sholat dulu di masjid setelah itu makan bakso. Alhamdulillah perut kenyang, waktunya pulang ke rumah. Semoga bisa renang lagi disini...

KOLAM RENANG YADIKA KALIJATI
Alamat : Desa Kaliangsana Kecamatan Kalijati Kabupaten Subang.
Rute : Kurang lebih 1km dari tikungan masuk jalan menuju tol Kalijati, samping kiri Sekolah Yadika.

Tuesday, 8 August 2017

Berbagi Resep Sederhana di Instagram


Berbagi Resep Sederhana di Instagram. Ada yang belum punya akun instagram??sepertinya zaman sekarang hampir semua orang memiliki akun instagram, selain facebook, twitter, dan lain sebagainya. Satu hal yang saya suka dari instagram adalah bisa lihat foto banyak hal, ya iyalah hehehe. Kalau dulu, saya sering cari inspirasi (berupa gambar) atau sekedar refreshing lihat gambar makanan di pinterest. Meskipun kalau lewat handphone sangat terbatas, sekarang lebih banyak beralih ke instagram.

Berbagi Resep Sederhana di Instagram
Antara blog Hot Wajan dan instagram
Sebetulnya berbagi resep tidak harus di instagram, tapi 2 tahun terakhir saya lebih sering (hampir setiap hari) posting resep di instagram. Sempat merasa bersalah banget sama blog Hot Wajan, karena saya lebih sering sharing disana ketimbang di blog khusus resep,huhuhu. Tapi sebisa mungkin, resep yang saya share di instagram setelah itu saya simpan dan share di blog Hot Wajan. Ya, meskipun nggak langsung hari itu juga,tapi disempat-sempatin gitu hehehe.
Boleh di follow kak ^^
Resep dan foto sederhana
Bagi saya, yang punya balita 19 bulan, setiap hari harus masak kemudian memotret hasil masakan adalah satu hal yang sedikit rumit jika dipikirkan. Gimana masaknya??kapan masaknya??gimana dan kapan motret makanannya??sempet ya masak segitu??sempet ya motret??. Jadi, nggak usah dipikir ya teman-teman,hehehe. Ya,intinya bangun sepagi mungkin,maka pekerjaan rumah cepat selesai. Seriusss!!!. Memotret pada saat anak tidur atau ketika suami libur, jadilah foto makanan.
Saya tipikal orang nggak mau susah dan ribet, apalagi soal masak memasak. Bagi saya, bumbu tumis itu bawang merah, bawang putih, cabe rawit/merah/hijau, gula, garam dan saus tiram. Hasil masakan sudah enak dan nikmat. Kalaupun mau masak enak tapi ada dua bahan nggak ada di dapur, saya memilih untuk terus masak menggunakan bumbu yang ada (kecuali garam dan gula ya ckckck). Jadi, yang saya bagi mayoritas resepnya simpel dan sederhana.

Masalah foto memfoto, saya juga memilih motret dengan properti dan model yang itu-itu saja. Alasannya belum mau beli banyak properti foto dll, maklum hidupnya berpindah-pindah jadi takutnya nggak keangkut,huhuhu. Modal foto saya satu tahun ini ada tablet ASUS ZenPad, begron dari bekas cover mobil, piring, sendok, dan 3 kayu pemberian nenek kontrakan. Tapi kalau mau ada yang nyumbang properti, saya terima dengan senang hati,hahaha.

Intinya, berbagi resep sederhana di instagram itu lebih mudah dan simpel. Yang penting ada foto dan resep, jadilah sebuah postingan.
Teman-teman suka posting resep nggak di instagram?

Monday, 31 July 2017

Sarapan Nasi Tiwul di Subang

Ada yang suka nasi tiwul??
Atau belum pernah ngerasain??
Rugi!!!
Hahaha.....

Ngomongin soal nasi tiwul, kemarin saya dan suami sarapan nasi tiwul di Subang. Bukan beli disini tapi bawa dari kampung halaman suami, Ponorogo. Pertama kali ngerasain nasi tiwul sewaktu saya PKL di Ponorogo. Sepulang dari mengajar tiba-tiba di kontrakan sudah ada nasi tiwul sewakul bersama dengan sayur lodeh. Itulah pertama kalinya saya mencoba nasi tiwul, tentunya nggak sendirian, bareng teman-teman PKL lain, salah satunya Miss Rochma, blogger asal Gresik. Bertahun-tahun lamanya, akhirnya saya berjumpa lagi dengan nasi tiwul. Kebetulan suami asli Ponorogo, dan ternyata dirumah mertua masih sering makan nasi tiwul. Jadi, setiap saya dan suami mudik atau pulang kampung, selalu makan nasi tiwul.

Tentang Nasi Tiwul
Nasi tiwul terbuat dari singkong yang dikeringkan kemudian direndam dengan air selama 2 hari, setelah itu dijemur sampai kering lalu ditumbuk atau digiling dengan mesin selep. Kebetulan mudik lebaran kemarin suami minta dibawain bulek tiwul karak. Tiwul karak?jadi, tiwul karak itu berasal dari nasi tiwul yang dikeringkan, setelah nasi tiwul kering bisa diolah lagi menjadi nasi tiwul. Sisa nasi yang dikeringkan atau dijemur sampai kering, orang Jawa menyebutnya karak.
Jadilah kemarin saya dan suami sarapan nasi tiwul,yeay!!

Berikut cara membuat nasi tiwul karak (yag dikeringkan).
1. Rebus air 1 liter sampai mendidih.
2. Ambil tiwul karak sesuai selerkarakci bersih.
3. Siram tiwul dengan air mendidkaraktau bisa juga dengan di rendam tapi sebentar saja.
4. Nasi tiwul siap dihidangkan.

Berhubung saya newbie penikmat nasi tiwul, jadi makannya masih pakai nasi, dicampur gitu. Kalau suami sih nggak pakai nasi, jadi murni nasi tiwul aja hehe. Ohya, nasi tiwul bisa dinikmati dengan sayur lodeh, atau sayur lalapan, ikan asin dan sambel blelek. Soal rasa, nasi tiwul ini rasanya agak gurih, testurnya kasar kenyal.

Kali ini pendamping nasi tiwul ada tempe goreng, ikan asin, bayam rebus, daun kubis, mentimun, terong bulat, dan sambel blelek. Ohya, satu lagi kerupuk. Aduh, nambah terus kalo sama ikan asin. Sarapan nasi tiwul di Subang rasa Ponorogo, meskipun makannya cuma berdua tapi tetep lahap dan nambah hahaha.

Buat teman-teman yang belum ngerasain nasi tiwul, yuk sekali-kali incip ya. Bikin Nagih hehe....

Monday, 24 July 2017

Dawet Jabung Ponorogo : Enak, Segar dan Bikin Nagih

Assalamualaikum..apa kabar teman-teman blogger??semoga sehat selalu ya. Satu bulan lamanya saya libur nulis, masih belum move on nih dari mudik lebaran kemarin,haha. 15 hari di kampung halaman rasanya masih kurang, tapi mau nggak mau harus balik ke Subang Jawa Barat, bapaknya bubuky sudah harus kerja lagi.

Ohya, lebaran kemarin kami mudik ke dua kota, Ponorogo dan Jombang. Di Ponorogo sempat mampir ke Desa Jabung, ada apa di Desa Jabung??Ada Dawet Jabung. Nah, ngomongin soal Dawet Jabung, dari kecil saya sudah sering mampir dan menikmati Dawet yang terkenal di Kota Ponorogo ini. Kebetulan dua kakak saya sekolah di Gontor, jadi setiap pulang dari menjenguk kakak di Gontor, pulangnya selalu mampir ke Dawet Jabung.

Tentang Dawet Jabung
Sebenarny Dawet Jabung sama seperti dawet pada umumnya, isinya ada cendol beserta kuah. Tapi yang membuat Dawet Jabung berbeda ada di rasa kuah yang manis gurih, cendolnya berwarna putih, emmm...bening gitu tidak berwarna, ada ketan hitam dan beras yang dibentuk bulat. Kita bisa menikmatinya dengan atau tanpa es batu. Saya kemarin tidak menggunakan es batu, jadi rasanya benar-benar berasa banget. Dan rasanya sama seperti dulu,nggak ada yang berbeda.

Ohya, di warung tidak hanya menjual Dawet Jabung saja, tapi yang selalu ada dari dulu adalah gorengannya. Tapi sekarang sudah ada yang menjual mi ayam dan bakso, selain menu Dawet Jabung. Satu porsi Dawet Jabung dihargai Rp 3000, gorengannya Rp 1000. Lokasi warung Dawet Jabung ada di Desa Jabung Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo. Kalau sudah sampai di Desa Jabung,kita bisa menemui banyak penjual Dawet Jabung.

Buat teman-teman yang belum pernah nyobain Dawet Jabung, kalau singgah ke Kota Ponorogo jangan lupa ya incip nikmatnya Dawet Jabung, salah satu minuman khas Kota Ponorogo.
Semoga bermanfaat..